MENGUASAI MEDAN, LEBIH SANTAI MENJALANKAN TUR
03 Jun 2016 / 741 views

Setelah Cherry Rock Festival 2016 yang menyenangkan, seluruh rombongan punya waktu untuk istirahat sebelum bermain kembali di venue yang sama pada 4 Mei 2016.
 

Kebanyakan dari kami memilih untuk istirahat. Waktu dua hari yang tersedia digunakan untuk membayar energi yang telah keluar di beberapa hari sebelumnya. Tidur menjadi hal mewah yang kami konsumsi di jeda tersebut. Hidup di dalam rangkaian tur memang tidak pernah mudah. Ada banyak hal yang harus dilakukan dalam kondisi yang remote, karena rangkaian satu pertunjukan dengan pertunjukan lainnya berlangsung dalam jarak yang pendek. 
 
Di jeda waktu tersebut, kami juga harus mengatur sejumlah persiapan untuk perjalanan berikutnya. Mulai dari mengecek ketersediaan sound system, penyewaan alat yang harus dilakukan di sisa tur, perjalanan dari satu kota ke kota lainnya dan sejumlah hal lainnya.
 
Kalau dipikir tur itu sekalian jalan-jalan, mungkin bisa dibilang kurang tepat. Jalan-jalan melihat kota, tidak pernah jadi prioritas. Seluruh hal harus dihitung dalam kurun waktu yang pendek. Kalau lengah sedikit, bisa jadi perjalanan berantakan.
 
Mengisi kembali energi juga penting untuk dilakukan. Rangkaian tur benar-benar menguji stamina. Selain beraksi di atas panggung, pindah dari satu venue ke venue lainnya, termasuk berganti kota juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
 
Dengan rombongan yang kecil, tantangan jadi lebih berat.
 
Tanggal 4 Mei 2016, kami kembali bermain di Cherry Bar. Statusnya tapi kali ini berbeda, kami jadi headliner. Jadi, dapat ruangan untuk menyimpan alat dan sedikit santai. Sekitar pukul 6 sore, The SIGIT sudah tiba di venue. Kami membagi malam dengan Devil Electric yang memang seterusnya akan berbagi panggung.
 
Hari itu, tiket presale sudah laku sekitar 100. Ketika Devil Electric main, ruangan jadi makin penuh. Lumayan banyak orang Indonesia yang nongol malam itu. Kapasitas ruangnya sendiri sekitar 250 orang.
 
Yang juga mengejutkan, ada beberapa orang yang telah mengikuti kami sejak tur pertama dulu. Mereka, ketika diajak ngobrol, ternyata menunggu kapan kami akan kembali lagi ke Melbourne. Senang sekali rasanya akan keberadaan orang-orang seperti itu.
 
Malam yang seru, kembali membuat kami lengah dan larut dalam obrolan dengan banyak orang. Kami menjual banyak cd dan merchandise lewat obrolan-obrolan dengan banyak orang yang ditemui malam itu. Tanpa terasa, sudah nyaris pukul dua malam. Ketika malam seharusnya sudah diselesaikan, kami masih harus membawa peralatan kembali ke hotel yang terletak sekitar 500 meter dari Cherry Bar. Jaraknya tidak jauh, tapi coba tambahkan lagi dengan berat bawaan dan minuman yang masuk ke kerongkongan. Pasti jadi lebih berat.


Agenda kami selanjutnya adalah pergi ke Rye, kota selanjutnya yang jadi tujuan tur ini. Jarak kota ini tidaklah jauh, hanya sekitar 90 km dari pusat kota Melbourne. Perjalanan darat jadi menu kali ini. Karena tidak ada dari kami yang memiliki SIM internasional, maka kami mencari bantuan untuk mengemudikan mobil.

Di Melbourne, kami bertemu dengan Stuart, salah satu orang yang fasih berurusan dengan proses berpindah kota bersama band. Kebetulan, ia sering menjadi road manager untuk sejumlah band punk rock lokal yang tur menggunakan jalan darat. Dengan sukarela, ia membantu mengemudikan mobil ke Rye.
 
The SIGIT – Cognition Tour 2016 berlanjut. Jalanan, benar-benar jadi teman baik kami selama dua minggu di Australia. (*)

Photo by : Refantho Ramadhan


Please login or register to submit your comment.


LOGIN REGISTER



© 2016 SUPERMUSIC.ID