PERAYAAN MUSIK DI CHERRY ROCK FESTIVAL 2016    
06 May 2016 / 1220 views

Tidak terasa, akhirnya tiba juga di gig utama pada The SIGIT Cognition Tour 2016 ini. Kami akan bermain Cherry Rock Festival 2016.

Yang ada di dalam kepala adalah rasa penasaran yang sangat besar tentang bagaimana festival ini dilangsungkan. Untungnya, beberapa malam sebelumnya kami sudah memainkan sejumlah pertunjukan secara spartan. Jadinya, sudah panas.  Kebetulan juga, kami sudah bermain di Cherry Bar, venue utama festival. Jadinya, juga sudah cek ombak.

Penasaran yang tinggal mulai perlahan terkikis ketika peralatan kami tiba di venue sekitar pukul 11 siang waktu Melbourne. Kami tiba lebih dulu ketimbang peralatan. Ketika semuanya tiba, bisa langsung siap-siap. Sebelumnya juga, kami telah mengatur strategi dengan Devil Electric –salah satu band yang membagi panggung dengan The SIGIT— untuk saling membantu memindahkan backline ke atas panggung pada saat main nanti. Sekedar informasi, di sirkuit tur yang ada di luar negeri, kondisi dasar yang kebanyakan berlaku adalah venue hanya menyediakan sound system. Seluruh peralatan, termasuk amplifier harus disediakan oleh band yang akan main. Jadi, kemampuan untuk mengeset peralatan sendiri mutlak diperlukan dan dalam keterbatasan anggota rombongan model perjalanan ini, ya mau tidak mau, kerjasama satu sama lain sangatlah diandalkan. Supaya seluruh proses jadi lebih ringkes dan efektif. 

Kondisi venue sudah berubah total ketimbang pada saat kami main di sana beberapa hari yang lalu. Panggung sudah berdiri di ujung jalan dan popup bar sudah siap mengucurkan minuman bagi pengunjung di posisi yang tidak biasa. Jalanan ditutup untuk umum, hanya mereka yang memiliki akses ke festival inilah yang bisa masuk. Entah bagaimana cara pemilik Cherry Bar meyakinkan tetangganya untuk tutup sementara waktu demi Cherry Rock Festival. Dan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sudah jadi tradisi. Mungkin juga karena festival diselenggarakan di hari Minggu di mana memang bisnis bar dan bistro tidak seramai hari akhir pekan lainnya. 

Café di sebelah Cherry Bar pun bahkan sampai disulap menjadi backstage untuk para pengisi acara dan ruang media. Dan lagi-lagi kami bertemu dengan keteraturan. Di backstage, terpampang dengan jelas jadwal seukuran A0 yang menunjukkan siapa yang sedang main dan kapan band berikutnya harus siap-siap. Hari itu, kami dijadwalkan tampil pukul 13.45 waktu setempat. Masih ada waktu untuk jalan-jalan ke booth merchandise. Supaya tidak kehabisan. Kaos resmi festival dalam waktu sebentar sudah berpindah tangan. Di Cherry Rock Festival 2016, kami kebagian main di dalam bar. Selain sistem informasi yang baik, festival ini juga lihai mengakali keterbatasan ruang untuk dibagi antar masing-masing band yang main. Ada aturan bahwa kami hanya boleh mengangkat alat-alat dalam kurun waktu tertentu dan harus melakukan setup yang cekatan dalam waktu 30 menit.

Termasuk di dalamnya melakukan sound check. Tapi, dasar memang industrinya sudah jadi, semua ya seolah jadi baik-baik saja. Seluruh band yang tampil pun bisa dengan mudah menyesuaikan dengan ritme festival yang cekatan.

Malah, secara terbuka, organizer festival menyarankan agar kami berbagi alat dengan band-band lain yang tampil. Festivalnya tidak besar, tapi suasananya benar-benar menyenangkan. Industri yang sudah jadi tadi, berhasil menerjemahkan berbagai macam kemungkinan atas nama musik. Orang-orang yang bekerja atau menonton benar-benar professional dan seolah punya kesepakatan tidak tertulis untuk merayakan musik. Musik seolah diartikan sebagai bagian penting dari seni budaya yang juga punya posisi terhormat di dalam hidup orang banyak. Oleh karena itu, perlu diapresiasi dengan baik, tanpa batasan umur dan gender. Semuanya tumpah ruah di ruang yang sama. Kalau dicari pembanding, panggung yang kami mainkan kalau di Indonesia, mungkin seperti panggung 17 Agustus yang tidak besar.

Tapi memori yang ditinggalkan oleh festival ini, benar-benar akan bertahan lama. Ia super menyenangkan. Malam itu, headliner utama, Kadavar naik panggung di ujung hari. Sekaligus menjadi penanda selesainya festival yang seru. Ada after party bagi seluruh pengisi acara, sesuatu yang tidak pernah bisa kami lewatkan begitu saja. Semuanya berbaur dan lagi-lagi merayakan sesuatu atas nama musik. It’s a good feeling.

Hari itu sangatlah indah. Suatu bagian memori yang bisa dengan bangga kami ceritakan kepada anak cucu di masa depan nanti. (*)

Credit Photo by : Refantho Ramadhan.


Please login or register to submit your comment.


LOGIN REGISTER


andisainer

Sounds nice! I'm so excited!



© 2016 SUPERMUSIC.ID